LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA
DASAR 2
Dosen
pengampu : Dr. Kartimi, M.Pd
Asisten
pengampu : 1. Diana Yuliani
2. Dewi
Fortuna
Praktikan
:
Santi
Nurwantini
NIM
: 14121610725
IPA
BIOLOGI B / 2
PUSAT LABORATORIUM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2013
BUFFER DAN HIDROLISA
A.
Tujuan
1. Menentukan
larutan yang terjadi berdasarkan pengukuran pH.
a. Proses
Buffer
b. Proses
Hidrolisa
c. Proses
asam atau basa kuat yang terionisasi
2. Menghitung
pH teoritik dari ke 3 proses tersebut
B.
Dasar
Teori
Larutan buffer adalah larutan yang
terdiri dari garam dengan asam lemahnya atau garam dengan basa lemahnya.
Komposisi ini menyebabkan larutan memiliki kemampuan untuk mempertahankan pH
jika kedalam larutan ditambahkan sedikit asam atau basa. Hal ini disebabkan
larutan penyangga memiliki pasangan asam basa konjugasi (konsep asam
Lowry-Bronsted). Dalam kimia, teori Bronsted-Lowry adalah teori mengenai asam
basa yang digagaskan oleh Johannes
Nicolaus Bronsted dan Thomas Martin Lowry pada tahun 1923 secara terpisah. Dalam teori ini, asam Bronsted didefinisikan
sebagai sebuah molekul atau ion yang mampu “melepaskan” atau "mendonorkan"
kation hidrogen (proton H+), dan basa Bronsted sebagai spesi kimia yang mampu menarik
atau "menerima" kation hidrogen (proton). (Michael
Purba, 2000: 78)
Ciri-ciri
asan dan basa Bronsted Lowry yaitu ketika sebuah senyawa yang berperilaku
seperti asam mendonorkan proton, haruslah terdapat basa yang menerima proton
tersebut. Sehingga konsep asam basa Bronsted–Lowry dapat didefinisikan sebagai
reaksi:
Asam + Basa
basa konjugasi + asam konjugasi
Basa
konjugasi adalah ion atau molekul yang dihasilkan setelah asam kehilangan
protonnya, sedangkan asam konjugasi adalah spesi yang dihasilkan ketika basa
menerima proton. Reaksi ini bersifat reversibel dan dapat berjalan terbalik
maupun ke depan. (Yayan Sunarya dkk, 2001: 55).
Pencampuran
larutan asam dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Namun
demikian, garam dapat bersifat asam, basa maupun netral. Sifat garam bergantung
pada jenis komponen asam dan basanya. Garam dapat terbentuk dari asam kuat
dengan basa kuat, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah,
atau asam lemah dengan basa lemah. Jadi, sifatasam basa suatu garam dapat
ditentukan kekuatan asam dan basa penyusunnya. Sifat keasaman atau kebasaan
garam ini disebabkan oleh sebagian garam yang larut beraksi dengan air. Proses
larutnya sebagian garam beraksi dengan air ini disebut hidrolisis (
hidro yang berarti air dan lisis yang berarti peruraian ).
Ada empat
jenis garam, yaitu;
1. Garam dari
Asam Kuat dengan Basa Kuat.
Asam kuat
dan basa kuat bereaksi membentuk garam dan air. Kation dan anion garam berasal
dari elektrolit kuat yang tidak terhidrolisi, sehingga larutan ini bersifat
netral, Ph =7.
2. Garam dari
Asam Kuat dengan Basa Lemah.
Garam yang
terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian
(parsial) dalam air. Garam ini mengandung kation asam yang mengalami
hidrolisis. Larutan garam ini bersifat asam, pH <7.
3. Garam dari
Asam Lemah dengan Basa Kuat
Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat
mengalami hidrolisis parsial dalam air. Garam ini mengandung anion basa yang
mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa, pH > 7.
4. Garam dari
Asam Lemah dengan Basa Lemah
Asam lemah dengan basa lemah dapat membentuk garam yang
terhidrolisis total (sempurna) dalam air. Baik kation maupun anion dapat
terhidrolisis dalam air. Larutan garam ini dapat bersifat asam,basa, maupun
netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion
dalam reaksi dengan air. (Rahmat, 2005: 96-97).
C. Alat
dan bahan
|
Alat
|
Jumlah
|
|
Tabung ukur 100 ml
|
1
|
|
Pipe tetes
|
5
|
|
Tabung reaksi
|
5
|
|
Bahan
|
Banyaknya
|
|
Indicator
universal kertas
|
6
biji
|
|
Aquades
|
18
ml
|
|
Larutan
CH3COOH
|
1
M
|
|
Larutan
NH4Cl
|
1
M
|
|
KH2PO4
|
1
M
|
|
NaOH
|
1M
|
|
|
|
D.
Prosedur Kerja
|
Sketsa kerja
|
Keterangan
|
|
|
1 ml CH3COOH
1 M + 1 ml NaOH 1 M di dalam tabung reaksi. Lalu di ukur pH nya dengan kertas
indicator.
1 ml
CH3COOH 1 M diencerkan dicampur dengan 9 ml aquades. Lalu di hitung
konsentrasinya.
1 ml
NaOH 1 M diencerkan sampai 10 ml dengan menambahkan 9 ml aquades. Kemudian di
hitung konsentrasinya.
2 ml CH3COOH
yang telah diencerkan + 2 ml NaOH yang telah diencerkan. Kemudian diteteskan
pada kertas indikator dan pH-nya di ukur.
5 ml CH3COOH
yang telah diencerkan + 2 ml NaOH yang telah diencerkan, lalu diteteskan pada
kertas indicator untuk diukur pH-nya.
2 ml CH3COOH
yang telah diencerkan + 5 ml NaOH yang telah diencerkan dan diteteskan pada kertas
indikator untuk diukur pH-nya.
|
E.
Hasil Pengamatan
|
Larutan
|
Konsentrasi dan pH
|
|
1
ml CH3COOH + 1 ml NaOH
|
pH
= 11
|
|
1
ml CH3COOH + 9 ml aquades
|
Konsentrasi
= 0,1 M
|
|
1
ml NaOH + 9 ml aquades
|
Konsentrasi
= 0,1 M
|
|
2
ml CH3COOH + 2 ml NaOH
|
pH
= 4
|
|
5
ml CH3COOH + 2 ml NaOH
|
pH
= 5
|
|
2
ml CH3COOH + 5 ml NaOH
|
pH
= 12
|
|
KH2PO4
|
pH
= 4
|
|
NH4Cl
|
pH
= 5
|
Perhitungan
konsentrasi pengenceran :
Diketahui:
- V CH3COOH = 1 ml Jawab :
M1 . V1= M2 . V2
- V H2O = 9 ml 1 . 1 =
9 . M2
M CH3COOH = 1 M M2
= 1/9 = 0,1 M
Ditanyakan: M H2O ?
M
campuran CH3COOH+H2O =
=
M
campuran CH3COOH + NaOH =
Asam lemah ( basa konjugasi )
awal : 0,1 mmol 0,1
mmol -
reaksi: -0,1 mmol -0,1
mmol +0,1 mmol
akhir: 0 0 0,1 mmol
F.
Pembahasan
Percobaan yang telah dilakukan adalah percampuran larutan CH3COOH
1 M dengan H2O, dimana pH kedua larutan tersebut ditentukan
berdasarkan proses buffer, proses hidrolisa, dan proses asam atau basa kuat
yang terionisasi.
Larutan CH3COOH merupakan larutan yang bersifat
asam lemah dan NaOH merupakan garam yang bersifat basa kuat. Kedua campuran
larutan tersebut menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam
lemah (CH3COOH).
Percobaan pertama yaitu menentukan
pH dengan menggunakan kertas indikator. pH percampuran larutan CH3COOH
1 M dengan NaOH 1 M adalah 11. Ini ditunjukan dengan warna ungu pada kertas
indicator universal. Berarti kedua larutan ini bersifat basa kuat karena pH nya
lebih dari 7 ( > 7 ).
Berbeda pada percobaan kedua yaitu pengenceran terhadap
larutan CH3COOH 1 M yang ditambah 9 ml air sehingga larutan diencerkn
sampai dengan 10 ml. Maka dapat ditentukan konsentrasinya kedua larutan itu
dengan cara menentukan Molaritas air yaitu sebesar 0,1 M dan konsentrasi
pengenceran terhadap CH3COOH 1 M adalah 0,19 M ( berdasarkan
perhitungan diatas ). Untuk konsentrasi pengenceran NaOH oleh H2O
sama nilainya dengan konsentrasi CH3COOH+H2O yaitu 0,19 M
konsentrasi kedua larutan tersebut karena volume untuk direaksikannya sampai 10
ml. Sedangkan konsentrasi campuran CH3COOH 1 M + NaOH 1 M adalah
tetap 1 M.
Pengenceran cuka dan NaOH dari percobaan kedua dibagi
kedalam 3 tabung reaksi dengan
masing-masing berbeda volumenya. Volume 2 ml cuka ditambah 2 ml NaOH memilki pH
sebesar 4. Sedangkan 5 ml cuka ditambah 2 ml NaOH pH nya adalah 5. Ini
membuktikan kedua larutan pengenceran tersebut bersifat asam kuat. Berbeda pada
2 ml cuka ditambah 5 ml NaOH memiliki pH sebesar 12. Larutan ini bersifat basa
karena pH nya > 7.
Ketiga
campuran larutan tersebut terjadi proses hidrolisis. Garam yang terbentuk dari
asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis parsial dalam air. Garam ini
mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat
basa.
Natrium
asetat (CH 3 COONa) terbentuk dari asam lemah CH 3COOH
dan basa kuat NaOH. CH 3 COOH akan terionisasi sebagian
membentuk CH 3 COO - dan Na + .
Anion CH 3 COO -berasal dari asam lemah
yang dapat terhidrolisis, sedangkan kation Na + berasal
dari basa kuat yang tidak dapat terhidrolisis. Campuran larutan CH 3COOH
dan NaOH yang memiliki pH 4 dan 5 disebut dengan proses buffer karena pH nya
< 7 sehingga larutan tetap mempertahankan pH meski ditambah sedikit asam,
basa, dan air.
G. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan
yang telah dilakukan percobaan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Campuran larutan 1 ml CH3COOH
1 M + 1 ml NaOH 1 M memilki pH 11 dan 12 menghasilkan garam yang mengandung
anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa (pH >
7).
2. Pengenceran CH3COOH
dengan NaOH yang memiliki pH 4 dan 5 mengalami proses buffer dan bersifat asam.
3. NH4Cl memiliki pH 4 dan
merupakan garam yang mengandung kation asam yang mengalami hidrolisis yang
bersifat asam.
4. KH2PO4 memiliki
pH 5 sehingga bersifat asam.
DAFTAR
PUSTAKA
Michael Purba, 2000. Kimia
Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Rahmat. 2005. Kimia.
Jakarta: Grafindo Media Pratama.
Yayan Sunarya dkk. 2001. Praktikum Kimia Dasar. Bandung: Kimia
FPMIPA UPI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar