Mau ada yg nyanyiin Lagu ini :)

http://soundfox.me/audio/Bruno_Mars_-_Marry_You.mp3

Minggu, 06 April 2014

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

LAPORAN PRAKTIKUM
                                            KIMIA DASAR 2       
Dosen pengampu : Dr. Kartimi, M.Pd
Asisten pengampu : 1. Diana Yuliani
                                 2. Dewi Fortuna   
                                                                                                               



Praktikan :
Santi Nurwantini
NIM : 14121610725
IPA BIOLOGI B / 2

PUSAT LABORATORIUM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON

2013







BUFFER DAN HIDROLISA
A.    Tujuan
1.      Menentukan larutan yang terjadi berdasarkan pengukuran pH.
a.       Proses Buffer
b.      Proses Hidrolisa
c.       Proses asam atau basa kuat yang terionisasi
2.      Menghitung pH teoritik dari ke 3 proses tersebut

B.     Dasar Teori
Larutan buffer adalah larutan yang terdiri dari garam dengan asam lemahnya atau garam dengan basa lemahnya. Komposisi ini menyebabkan larutan memiliki kemampuan untuk mempertahankan pH jika kedalam larutan ditambahkan sedikit asam atau basa. Hal ini disebabkan larutan penyangga memiliki pasangan asam basa konjugasi (konsep asam Lowry-Bronsted). Dalam kimia, teori Bronsted-Lowry adalah teori mengenai asam basa yang digagaskan oleh Johannes Nicolaus Bronsted dan Thomas Martin Lowry pada tahun 1923 secara terpisah. Dalam teori ini, asam Bronsted didefinisikan sebagai sebuah molekul atau ion yang mampu “melepaskan” atau "mendonorkan" kation hidrogen (proton H+), dan basa Bronsted sebagai spesi kimia yang mampu menarik atau "menerima" kation hidrogen (proton). (Michael Purba, 2000: 78)
Ciri-ciri asan dan basa Bronsted Lowry yaitu ketika sebuah senyawa yang berperilaku seperti asam mendonorkan proton, haruslah terdapat basa yang menerima proton tersebut. Sehingga konsep asam basa Bronsted–Lowry dapat didefinisikan sebagai reaksi:
Asam + Basa   basa konjugasi + asam konjugasi
Basa konjugasi adalah ion atau molekul yang dihasilkan setelah asam kehilangan protonnya, sedangkan asam konjugasi adalah spesi yang dihasilkan ketika basa menerima proton. Reaksi ini bersifat reversibel dan dapat berjalan terbalik maupun ke depan. (Yayan Sunarya dkk, 2001: 55).

Pencampuran larutan asam dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Namun demikian, garam dapat bersifat asam, basa maupun netral. Sifat garam bergantung pada jenis komponen asam dan basanya. Garam dapat terbentuk dari asam kuat dengan basa kuat, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan basa lemah, atau asam lemah dengan basa lemah. Jadi, sifatasam basa suatu garam dapat ditentukan kekuatan asam dan basa penyusunnya. Sifat keasaman atau kebasaan garam ini disebabkan oleh sebagian garam yang larut beraksi dengan air. Proses larutnya sebagian garam beraksi dengan air ini disebut hidrolisis ( hidro yang berarti air dan lisis yang berarti peruraian ).
Ada empat jenis garam, yaitu;                     
1.      Garam dari Asam Kuat dengan Basa Kuat.
Asam kuat dan basa kuat bereaksi membentuk garam dan air. Kation dan anion garam berasal dari elektrolit kuat yang tidak terhidrolisi, sehingga larutan ini bersifat netral, Ph =7.
2.      Garam dari Asam Kuat dengan Basa Lemah.
Garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian (parsial) dalam air. Garam ini mengandung kation asam yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat asam, pH <7.
3.      Garam dari Asam Lemah dengan Basa Kuat
Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis parsial dalam air. Garam ini mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa, pH > 7.
4.      Garam dari Asam Lemah dengan Basa Lemah
Asam lemah dengan basa lemah dapat membentuk garam yang terhidrolisis total (sempurna) dalam air. Baik kation maupun anion dapat terhidrolisis dalam air. Larutan garam ini dapat bersifat asam,basa, maupun netral. Hal ini bergantung dari perbandingan kekuatan kation terhadap anion dalam reaksi dengan air. (Rahmat, 2005: 96-97).






C.    Alat dan bahan
Alat
Jumlah
Tabung ukur 100 ml
1
Pipe tetes
5
Tabung reaksi
5

           
Bahan
Banyaknya
Indicator universal kertas
6 biji
Aquades
18 ml
Larutan CH3COOH
1 M
Larutan NH4Cl
1 M
KH2PO4
1 M
NaOH
1M



D.    Prosedur Kerja
Sketsa kerja
Keterangan

1 ml CH3COOH 1 M + 1 ml NaOH 1 M di dalam tabung reaksi. Lalu di ukur pH nya dengan kertas indicator.

1 ml CH3COOH 1 M diencerkan dicampur dengan 9 ml aquades. Lalu di hitung konsentrasinya.

1 ml NaOH 1 M diencerkan sampai 10 ml dengan menambahkan 9 ml aquades. Kemudian di hitung konsentrasinya. 


2 ml CH3COOH yang telah diencerkan + 2 ml NaOH yang telah diencerkan. Kemudian diteteskan pada kertas indikator dan pH-nya di ukur.
 
5 ml CH3COOH yang telah diencerkan + 2 ml NaOH yang telah diencerkan, lalu diteteskan pada kertas indicator untuk diukur pH-nya.
2 ml CH3COOH yang telah diencerkan + 5 ml NaOH yang telah diencerkan dan diteteskan pada kertas indikator untuk diukur pH-nya. 



E.     Hasil Pengamatan
Larutan
Konsentrasi dan pH
1 ml CH3COOH + 1 ml NaOH
pH = 11
1 ml CH3COOH + 9 ml aquades
Konsentrasi = 0,1 M
1 ml NaOH + 9 ml aquades
Konsentrasi = 0,1 M
2 ml CH3COOH + 2 ml NaOH
pH = 4
5 ml CH3COOH + 2 ml NaOH
pH = 5
2 ml CH3COOH + 5 ml NaOH
pH = 12
KH2PO4
pH = 4
NH4Cl
pH = 5




Perhitungan konsentrasi pengenceran :
Diketahui: - V CH3COOH = 1 ml      Jawab : M1 . V1= M2 . V2
      - V H2O = 9 ml                               1 . 1 =  9 . M2
     M CH3COOH = 1 M                                 M2 = 1/9 = 0,1 M       
Ditanyakan: M H2O ?                         
M campuran CH3COOH+H2O =  =
M campuran CH3COOH + NaOH =

CH3COOH(aq)    +       NaOH(aq)                      CH3COONa-(aq)           +        H2O+(l)   
Asam lemah                                                                        ( basa konjugasi )
awal :    0,1 mmol                    0,1 mmol                     -
reaksi:   -0,1 mmol                   -0,1 mmol                    +0,1 mmol
akhir:      0                               0                                  0,1 mmol 



F.     Pembahasan

Percobaan yang telah dilakukan adalah percampuran larutan CH3COOH 1 M dengan H2O, dimana pH kedua larutan tersebut ditentukan berdasarkan proses buffer, proses hidrolisa, dan proses asam atau basa kuat yang terionisasi.
Larutan CH3COOH merupakan larutan yang bersifat asam lemah dan NaOH merupakan garam yang bersifat basa kuat. Kedua campuran larutan tersebut menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah (CH3COOH).
            Percobaan pertama yaitu menentukan pH dengan menggunakan kertas indikator. pH percampuran larutan CH3COOH 1 M dengan NaOH 1 M adalah 11. Ini ditunjukan dengan warna ungu pada kertas indicator universal. Berarti kedua larutan ini bersifat basa kuat karena pH nya lebih dari 7 ( > 7 ).

Berbeda pada percobaan kedua yaitu pengenceran terhadap larutan CH3COOH 1 M yang ditambah 9 ml air sehingga larutan diencerkn sampai dengan 10 ml. Maka dapat ditentukan konsentrasinya kedua larutan itu dengan cara menentukan Molaritas air yaitu sebesar 0,1 M dan konsentrasi pengenceran terhadap CH3COOH 1 M adalah 0,19 M ( berdasarkan perhitungan diatas ). Untuk konsentrasi pengenceran NaOH oleh H2O sama nilainya dengan konsentrasi CH3COOH+H2O yaitu 0,19 M konsentrasi kedua larutan tersebut karena volume untuk direaksikannya sampai 10 ml. Sedangkan konsentrasi campuran CH3COOH 1 M + NaOH 1 M adalah tetap 1 M. 
Pengenceran cuka dan NaOH dari percobaan kedua dibagi kedalam 3  tabung reaksi dengan masing-masing berbeda volumenya. Volume 2 ml cuka ditambah 2 ml NaOH memilki pH sebesar 4. Sedangkan 5 ml cuka ditambah 2 ml NaOH pH nya adalah 5. Ini membuktikan kedua larutan pengenceran tersebut bersifat asam kuat. Berbeda pada 2 ml cuka ditambah 5 ml NaOH memiliki pH sebesar 12. Larutan ini bersifat basa karena pH nya > 7.
Ketiga campuran larutan tersebut terjadi proses hidrolisis. Garam yang terbentuk dari asam lemah dengan basa kuat mengalami hidrolisis parsial dalam air. Garam ini mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa.
CH3COOH(aq)    +       NaOH(aq)                      CH3COONa-(aq)           +        H2O+(l)   
Natrium asetat (CH 3 COONa) terbentuk dari asam lemah CH 3COOH dan basa kuat NaOH. CH 3 COOH akan terionisasi sebagian membentuk CH 3 COO - dan Na + . Anion CH 3 COO -berasal dari asam lemah yang dapat terhidrolisis, sedangkan kation Na + berasal dari basa kuat yang tidak dapat terhidrolisis. Campuran larutan CH 3COOH dan NaOH yang memiliki pH 4 dan 5 disebut dengan proses buffer karena pH nya < 7 sehingga larutan tetap mempertahankan pH meski ditambah sedikit asam, basa, dan air.
Selanjutnya pada larutan NH4Cl setelah diukur pH nya adalah 5. NH4Cl merupakan garam yang terbentuk dari asam kuat dengan basa lemah mengalami hidrolisis sebagian dalam air. Garam ini mengandung kation asam yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat asam, pH <7, yang memiliki persamaan reaksi NH 4 Cl (aq)      NH 4 + (aq) + Cl - (aq). Sama seperti NH4Cl, pada larutan KH2PO4 pun bersifat asam karena memiliki pH 4 dengan persamaan reaksi berikut
KH2PO4         KH2+  +  PO4- .
G.    Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan percobaan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Campuran larutan 1 ml CH3COOH 1 M + 1 ml NaOH 1 M memilki pH 11 dan 12 menghasilkan garam yang mengandung anion basa yang mengalami hidrolisis. Larutan garam ini bersifat basa (pH > 7).
2.      Pengenceran CH3COOH dengan NaOH yang memiliki pH 4 dan 5 mengalami proses buffer dan bersifat asam.
3.      NH4Cl memiliki pH 4 dan merupakan garam yang mengandung kation asam yang mengalami hidrolisis yang bersifat asam.
4.      KH2PO4 memiliki pH 5 sehingga bersifat asam.
           




















DAFTAR PUSTAKA

Michael Purba, 2000. Kimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Rahmat. 2005. Kimia. Jakarta: Grafindo Media Pratama.
Yayan Sunarya dkk. 2001. Praktikum Kimia Dasar. Bandung: Kimia FPMIPA UPI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar